Home Literasi Hutan Jatim: Benteng Air yang Kian Rapuh
Literasi

Hutan Jatim: Benteng Air yang Kian Rapuh

Share
Share

Setiap tanggal 21 Maret, dunia berhenti sejenak untuk menoleh ke arah hamparan hijau yang kita sebut hutan. Hari Hutan Sedunia (International Day of Forests) bukan hanya tentang angka di kalender atau sekadar mengunggah foto pohon di media sosial. Ini adalah pengingat krusial bahwa tanpa hutan, kehidupan kita—secara harfiah—akan berhenti berdetak.

Pernahkah Anda membayangkan apa yang terjadi jika seluruh hutan di dunia hilang dalam semalam? Bukan hanya udara yang akan terasa menyesakkan, tapi air—sumber kehidupan kita—akan menjadi musuh yang mematikan atau justru hilang sama sekali. Hutan bukan sekadar kumpulan pohon; ia adalah sistem hidrologis paling canggih yang pernah ada di bumi.

Bagaimana Hutan “Menjinakkan” Air?

Di dalam hutan, air hujan tidak dianggap sebagai ancaman. Saat hujan deras mengguyur, tajuk pohon bertindak sebagai payung alami yang memecah energi kinetik tetesan air. Tanpa tajuk ini, air akan menghantam tanah dengan keras, menghancurkan struktur tanah, dan menutup pori-porinya.

Di bawah permukaan, sistem akar dan serasah (daun kering) bekerja seperti spons raksasa. Mereka menciptakan ruang pori di tanah yang memungkinkan air meresap ke dalam (infiltrasi) alih-alih mengalir liar di permukaan. Air yang meresap ini kemudian disimpan dalam “tabungan” bawah tanah yang kita kenal sebagai akuifer, yang kelak keluar kembali sebagai mata air jernih di musim kemarau.

Laju Deforestasi di Jawa Timur

Kondisi hutan di Jawa Timur menunjukkan tren yang mengkhawatirkan akibat alih fungsi lahan yang masif. Berdasarkan berbagai sumber data kehutanan dan statistik, berikut adalah gambaran faktualnya:

  • Penyusutan Signifikan: Studi spasial menunjukkan penurunan luas hutan yang drastis di beberapa wilayah. Sebagai contoh, sebuah laporan penelitian mencatat penyusutan luas hutan dari sekitar 380,97 km² pada tahun 2015 menjadi hanya 282,39 km² pada tahun 2024, atau berkurang sekitar 25,87% dalam kurun waktu kurang dari satu dekade.
  • Laju Deforestasi Tahunan: Data statistik mencatat bahwa rata-rata deforestasi lahan kawasan hutan di Jawa Timur mencapai sekitar 7.897,7 hektare per tahun. Angka ini mencerminkan betapa cepatnya pohon-pohon hilang berganti menjadi penggunaan lahan lain.
  • Sisa Tutupan Hutan di Jawa: Secara umum di Pulau Jawa, dari total luas kawasan yang ditetapkan sebagai hutan, tutupan hutan aktual (area yang benar-benar masih tertutup pohon) diperkirakan hanya tersisa sekitar 19%. Angka ini jauh di bawah batas ideal minimal 30% yang disyaratkan untuk menjaga keseimbangan ekosistem dan hidrologi.
  • Titik Terparah: Beberapa kabupaten mengalami tekanan yang sangat berat. Bojonegoro, misalnya, tercatat sebagai salah satu daerah dengan tingkat kegundulan hutan tertinggi kelima di Jawa Timur akibat menyusutnya tutupan hutan secara terus-menerus. Di wilayah lain seperti Tulungagung, degradasi hutan bahkan dilaporkan mencapai angka 20 ribu hektare.

Ketika pohon-pohon di lereng gunung ditebang dan diganti dengan tanaman berakar pendek, tanah kehilangan kemampuan memegang air. Akibatnya, setiap kali hujan intensitas tinggi melanda, air tidak lagi meresap, melainkan meluncur deras ke bawah membawa material tanah (erosi).

Kehilangan tutupan hutan ini secara langsung merusak fungsi “spons alami” tanah, yang menjadi alasan utama mengapa banjir bandang kini lebih sering terjadi meski dengan intensitas hujan yang sama seperti tahun-tahun sebelumnya.

Akar Masalah: Alih Fungsi Lahan 

Penyusutan ini bukan terjadi tanpa sebab. Alih fungsi lahan utama di Jawa Timur meliputi:

  1. Pertanian Semusim: Hutan di lereng-lereng pegunungan (seperti di lereng Arjuno, Semeru, dan Wilis) banyak dikonversi menjadi lahan jagung dan sayuran yang tidak memiliki kemampuan mengikat air sekuat pohon hutan.
  2. Pemukiman dan Infrastruktur: Pertumbuhan penduduk yang pesat di Jawa Timur menekan batas-batas hutan untuk dijadikan area hunian.
  3. Legalitas dan Administrasi: Adanya proses pelepasan kawasan hutan untuk program Penataan Kawasan Hutan (seperti PPTPKH) juga turut berkontribusi pada perubahan status dan fungsi lahan produksi menjadi area non-hutan.

Banjir: Pesan Balasan dari Alam

Kerusakan hutan di Jawa Timur bukan sekadar isu lingkungan di atas kertas, tapi sudah menjadi bencana nyata. Beberapa tahun terakhir, kita menyaksikan pola banjir yang semakin destruktif:

  1. Banjir Bandang : Kasus banjir bandang di Kota Batu dan Ijen (Bondowoso) menjadi pengingat pahit. Tanpa akar pohon yang kuat untuk menahan tanah di hulu, air hujan membawa material kayu dan lumpur yang menyapu apa pun di bawahnya.
  2. Pendangkalan Sungai: Di wilayah hilir seperti DAS Brantas dan Bengawan Solo, sedimentasi akibat erosi di hulu menyebabkan sungai menjadi dangkal. Akibatnya, sungai tak lagi mampu menampung debit air, sehingga banjir luapan menjadi “tamu rutin” bagi warga di wilayah dataran rendah.
  3. Ancaman Kekeringan: Ini adalah sisi lain dari koin yang sama. Karena “spons” di hulu rusak, cadangan air tanah tidak terisi saat hujan. Akibatnya, saat kemarau tiba, sumur-sumur warga di daerah seperti Gunungkidul (Pacitan-Wonogiri) atau wilayah kering di utara Jawa Timur seringkali mengalami krisis air bersih.

Menjaga Hutan, Menjaga Masa Depan

Menjaga hutan bukan lagi sekadar hobi para pecinta alam, melainkan upaya mitigasi bencana yang paling murah dan efektif. Reboisasi di hulu, penghentian alih fungsi lahan di lereng curam, serta penanaman pohon dengan sistem agroforestry adalah harga mati jika kita ingin Jawa Timur tetap menjadi tempat yang layak huni.

Tanpa hutan, air yang seharusnya menjadi kawan akan terus kembali sebagai lawan dalam bentuk banjir bandang, dan meninggalkan kita dalam kekeringan panjang saat ia pergi.

Share
  • Head Office : Gayaman, Mojokerto Distric, Jawa timur Region- Indonesia. 61364
  • Phone Call:
  • Web:www. aliansiair.com
  • email : info@aliansiair.com