Fenomena iklim El Niño yang kembali melanda wilayah Indonesia menjadi motor utama di balik konvergensi bencana hidrometeorologi kering di Pulau Jawa. Gelombang panas ekstrem dan minimnya curah hujan akibat El Niño telah mempercepat laju penguapan tanah. Di tengah kepungan ratusan titik panas (hotspot) kebakaran, Provinsi Jawa Timur kini berada di garda terdepan krisis air bersih. Fenomena kemarau panjang tahun ini memicu dampak paling mengerikan bagi keberlanjutan lingkungan: matinya ratusan sumber mata air purba secara serentak.
Data terbaru menunjukkan Jawa Timur menjadi wilayah paling terdampak di Pulau Jawa dengan 24 kabupaten/kota menetapkan status darurat. Ironisnya, hulu benteng pertahanan air di kawasan pegunungan terancam lumpuh akibat hilangnya debit air dan maraknya titik api.
Petaka di Hulu DAS Brantas
Kota Batu dan Malang Raya, yang selama ini dikenal sebagai “menara air” bagi Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas yang menghidupi jutaan warga Jawa Timur, kini mengalami kondisi kritis.
Dari total 111 titik mata air yang tercatat di Kota Batu, kini hanya tersisa sekitar 57 mata air yang masih aktif. Bahkan, tiga sumber mata air purba di Kecamatan Bumiaji—yaitu Sumber Mbah To, Sumber Goa Jepang, dan Sumber Janitri—yang secara historis tidak pernah kering, kini dilaporkan mati total.
Menurut para aktivis lingkungan, hilangnya mata air di wilayah hulu ini diakibatkan oleh kombinasi mematikan antara alih fungsi lahan hutan menjadi kawasan wisata komersial, serta maraknya pengeboran sumur dalam (deep well) ilegal oleh sektor industri dan akomodasi. Krisis Meluas ke Wilayah Tapal Kuda dan Kepulauan Madura.
Dampak kekeringan dari matinya sumber air ini dirasakan langsung oleh puluhan ribu warga di berbagai daerah:
Berdasarkan dokumen teknokratik rencana pengelolaan air daerah, dari total 161 mata air yang tersebar di wilayah tangkapan air Mojokerto (seperti Pacet dan Trawas), kini yang berfungsi hanya tersisa 153 mata air.
Sebanyak 8 mata air dilaporkan mati atau kehilangan fungsi hidrologisnya akibat hantaman kemarau dan masifnya aktivitas galian C di wilayah hilir.
Situbondo & Jember: Di kawasan lereng dan pedesaan seperti Desa Gunung Putri (Situbondo) dan Desa Mulyorejo (Jember), mata air andalan warga mengecil drastis hingga kering kerontang. Warga terpaksa mengonsumsi sisa rembesan air yang keruh atau berjalan kaki berjam-jam menembus hutan demi mendapatkan air bersih.
Banyuwangi: Sedikitnya 11 mata air utama menyusut hingga di atas 30%, mengancam sektor pertanian yang menjadi penyokong pangan kawasan.
Kepulauan Madura (Sumenep): Di wilayah kepulauan yang minim retensi air bawah tanah, 7 dari 11 mata air di beberapa desa strategis dilaporkan mati total, memaksa pemerintah daerah melakukan dropping air bersih secara masif menggunakan kapal dan tangki.
Jumlah mata air yang terverifikasi mati atau hilang fungsinya telah mencapai sedikitnya 118 titik mata air. Angka ini belum ditambah puluhan titik mata air skala kecil di lereng Argopuro (Situbondo-Jember) dan lereng Raung yang belum terdata secara digital oleh pemerintah daerah.
