Saat Server Kecerdasan Buatan Mulai Mengintai Sawah Petani

Share
Share

Angin berembus sedang di atas permukaan Waduk Jatiluhur, mengayunkan eceng gondok yang tumbuh liar di tepiannya. Bagi ratusan ribu petani di Karawang, Subang, hingga Bekasi, riak air di waduk ini adalah urat nadi kehidupan. Selama puluhan tahun, air dari bendungan terbesar di Indonesia ini mengalir tenang, menyulap tanah-tanah kering menjadi hamparan hijau lumbung padi nasional.

Namun kini, sebuah “makhluk baru” sedang bersiap hadir hanya sejauh lemparan batu dari bibir waduk. Di bawah terik matahari Jatiluhur, pemandangan lahan kosong yang baru saja diratakan menandai babak baru teknologi di Indonesia. Pada 22 September 2026 lalu, sebuah batu pertama diletakkan. Di atas tanah itulah AI Campus 2 (CGK4) milik BDx Data Centers bernilai Rp3,5 triliun akan berdiri kokoh.

Jawa Barat sedang menyambut masa depan: pusat data kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) berskala raksasa. Namun di balik gegap gempita digitalisasi tersebut, ada kecemasan yang perlahan

Dilema di Balik Kecanggihan “Otak Digital”

Kecerdasan buatan kerap dibayangkan sebagai sesuatu yang tak berwujud—berada di awan (cloud), bekerja dalam sunyi di balik layar ponsel kita. Namun secara fisik, AI adalah tumpukan komputer raksasa yang bekerja tanpa henti. Ribuan prosesor di dalamnya memproses miliaran data per detik untuk melatih algoritma pintar.

Konsekuensinya jelas: mesin-mesin itu menghasilkan panas yang luar biasa. Untuk mencegah kerusakan sistem, kompleks server ini membutuhkan sistem pendingin yang mumpuni. Di sinilah ironi itu dimulai.

Baca Juga :  Suara Sunyi dari Hulu: Ketika Para Pembela Sungai Berkumpul di Sumber Gempong

Pusat data AI di Jatiluhur dirancang menggunakan teknologi pendinginan cair langsung ke chip (direct-to-chip liquid cooling). Teknologi ini diklaim ramah energi, namun ia sangat haus air. Ketika proyek ini rampung sepenuhnya dengan kapasitas 640 MW, ia diproyeksikan membutuhkan pasokan air industri yang fantastis—mencapai 18.000 hingga 36.000 meter kubik per hari. Angka itu setara dengan menguras 36 juta liter air bersih setiap harinya hanya untuk mendinginkan mesin.

Sektor Perebutan Hak Atas Air di Jatiluhur

  • Pertanian : Mengairi 237.790 hektare sawah di Karawang, Subang, Bekasi, dan Indramayu.
  • Domestik : Memasok kebutuhan air minum utama bagi jutaan warga di Jabodetabek.
  • Industri AI : Membutuhkan hingga 36 juta liter air/hari untuk mendinginkan sistem komputer.

Suara dari Hilir: Takut Sawah Menjadi Berangkal

Bagi para petani di hilir Jawa Barat, angka-angka jutaan liter tersebut bukan sekadar statistik. Itu adalah urusan perut. Tanpa pasokan air yang konsisten dari Jatiluhur, musim tanam mereka bisa berantakan. Saat kemarau panjang datang, pembagian air irigasi sudah sering memicu konflik antarpokong petani.

“Kalau airnya dipakai buat mendinginkan komputer raksasa itu, bagaimana nasib sawah kami di bawah? Kami tidak butuh AI untuk menanam padi, kami butuh air,” keluh seorang petani di Karawang yang mengkhawatirkan pasokan airnya berkurang saat musim gogorancah tiba.

Kekhawatiran ini bukan tanpa alasan. Berdasarkan UU Nomor 17 Tahun 2019 tentang Sumber Daya Air, negara sebenarnya telah memprioritaskan pemanfaatan air untuk kebutuhan pokok sehari-hari dan pertanian rakyat di atas kepentingan industri. Namun, realita di lapangan sering kali abu-abu ketika investasi triliunan rupiah sudah mulai mengetuk pintu daerah.

Baca Juga :  Ratusan Mata Air Purba di Jawa Timur Mati

Anggota Komisi V DPRD Jawa Barat, [Maulana Yusuf Erwinsyah](https://rri.co.id/bandung/info-parlemen/2762136/maulana-yusuf-buka-suara-soal-proyek-data-center-ai-jatiluhur), menjadi salah satu suara kelantangan di parlemen daerah yang meminta transparansi dokumen AMDAL proyek ini.

“Jangan sampai kita silau dengan kemajuan teknologi dan angka investasi, tapi mengorbankan hajat hidup petani yang selama ini menjaga ketahanan pangan kita,” ujarnya mengingatkan.

Mencari Titik Temu di Tepi Bendungan

Menolak pembangunan pusat data AI sepenuhnya tentu bukan jawaban bijak di era modern. Jawa Barat membutuhkan lompatan teknologi dan penyerapan ribuan tenaga kerja lokal yang dijanjikan oleh proyek ini. Namun, membiarkan industri menyedot air tanpa mitigasi ketat juga merupakan lampu kuning bagi kelestarian lingkungan.

Kini, bola panas ada di tangan Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan pihak pengembang. Publik menanti komitmen nyata: apakah sistem pendingin pusat data ini nantinya bisa mengadopsi sistem sirkulasi tertutup (closed-loop system) yang tidak membuang air, atau memanfaatkan teknologi daur ulang air limbah (recycled water).

Matahari mulai tenggelam di cakrawala Jatiluhur, memantulkan warna keemasan di atas riak air waduk. Air itu masih mengalir ke sawah-sawah di utara. Namun, seiring dengan target beroperasinya Gedung 1 AI Campus pada awal 2027 nanti, waktu terus berjalan bagi pemerintah untuk membuktikan bahwa modernisasi tidak harus menumbalkan para petani.

Share
Artikel Terkait
Literasi

Ratusan Mata Air Purba di Jawa Timur Mati

Fenomena iklim El Niño yang kembali melanda wilayah Indonesia menjadi motor utama...

Literasi

Di Balik Demam CSR Mangrove Korporat Kita

Di balik megahnya laporan tahunan bersampul hijau milik korporasi raksasa, ada rahasia...

Literasi

Saat Sungai Kota Berubah Jernih dan Mendulang Rupiah

Tidak Semua sungai di tengah hiruk-pikuk kota bernasib malang menjadi tempat pembuangan...

Literasi

Sisi Ilmiah di Balik Kisah Mistis Lele Penjaga Sumber Air

Di tengah rimbunnya hutan bambu Desa Warugunung, Pacet, sebuah rahasia ekologi kuno...

  • Head Office : Gayaman, Mojokerto Distric, Jawa timur Region- Indonesia. 61364
  • Phone Call:
  • Web:www. aliansiair.com
  • email : info@aliansiair.com