Sungai Brantas bukan sekadar aliran air sepanjang 320 kilometer yang membelah Jawa Timur. Ia adalah saksi bisu lahirnya imperium besar, penyokong pangan jutaan rakyat, hingga menjadi mesin penggerak industri modern. Sebagai sungai terpanjang kedua di Pulau Jawa, Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas mencakup wilayah seluas 14.103 km², atau sekitar 25% dari total luas Provinsi Jawa Timur.
Hulu ke Hilir: Perjalanan Air yang Melingkar
Berhulu di mata air Desa Sumber Brantas, Kota Batu, tepat di lereng Gunung Arjuno-Anjasmoro, airnya mengalir unik melingkari Gunung Kelud. Perjalanan panjang ini melintasi 19 kabupaten/kota, mulai dari Malang, Blitar, Tulungagung, hingga Mojokerto. Di kota sejarah tersebut, Brantas terbelah menjadi dua: Kali Mas yang menuju Surabaya dan Kali Porong yang bermuara di Sidoarjo.
Keberadaan anak sungai besar seperti Kali Lesti, Kali Metro, dan Kali Widas semakin memperkokoh sistem hidrologi DAS ini, menjadikannya sumber air baku dan irigasi yang tak tergantikan.
Saksi Bisu Kejayaan Nusantara
Sejarah mencatat bahwa lembah Brantas adalah tempat lahirnya peradaban agraris dan maritim yang kuat. Sejak abad ke-8, Kerajaan Kanjuruhan di Malang telah memanfaatkan kesuburan tanahnya. Pada abad ke-10, Mpu Sindok memindahkan pusat Mataram Kuno ke tepi Brantas untuk menghindari amukan Merapi sekaligus mengincar jalur perdagangan strategis.
Rekayasa air pun sudah dimulai sejak dulu. Raja Airlangga pada abad ke-11 membangun Bendungan Waringin Sapta untuk menaklukkan banjir. Di era Majapahit, Brantas menjelma menjadi “jalan tol air” utama. Pelabuhan sungai seperti Canggu menjadi gerbang bagi pedagang dunia untuk menuju ibu kota Trowulan, membuktikan betapa vitalnya sungai ini bagi kedaulatan ekonomi kerajaan.
Periode / Era Peran & Peristiwa Penting
- Era Prasejarah Wilayah DAS Brantas Hulu diyakini menjadi tempat kehidupan Homo Wajakensis
- Abad ke-8 M Berdirinya Kerajaan Kanjuruhan (bercorak agraris) di hulu DAS Brantas
- 804 – 927 M Pengembangan sistem irigasi pertanian intensif di anak sungai Brantas
- Abad ke-10 M Raja Mpu Sindok memindahkan pusat Kerajaan Mataram dari Jawa Tengah ke wilayah dekat Sungai Brantas (sekitar Madiun)
- Era Prabu Airlangga (abad ke-11 M) Membangun bendungan di Waringin Sapta untuk mengatasi banjir
- Era Majapahit (abad ke-13–16 M) Menjadi jalur transportasi dan perdagangan vital. Canggu di Mojokerto menjadi pelabuhan pedalaman ramai yang menghubungkan ibu kota Majapahit (Trowulan) dengan pelabuhan laut di Surabaya
- Era Kolonial & Modern Pembangunan infrastruktur pengendalian air secara besar-besaran (bendungan, waduk) untuk mengatasi banjir, kekeringan, dan sedimentasi vulkanik (misal dari Gunung Kelud)
Transformasi Kolonial dan Modernisasi
Memasuki era kolonial, Belanda menyadari potensi Brantas untuk industri perkebunan. Infrastruktur seperti pintu air dan jembatan ikonik Brug Over den Brantas (1855) di Kediri dibangun untuk mobilitas hasil bumi.
Pasca-kemerdekaan, pengelolaan Brantas semakin sistematis melalui Brantas Plan (1958). Bekerja sama dengan Jepang, pemerintah membangun rangkaian bendungan raksasa yang berfungsi sebagai pengendali banjir, irigasi, dan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA). Nama-nama besar seperti Waduk Sutami (Karangkates), Selorejo, hingga yang terbaru Bendungan Semantok, menjadi pilar ketahanan energi dan pangan Jawa Timur. Sejak 1990, pengelolaannya berada di bawah kendali terpadu Perum Jasa Tirta I.
Tantangan Masa Depan Sungai Brantas
Meskipun memberikan manfaat luar biasa melalui endapan vulkanik yang menyuburkan lahan pertanian, DAS Brantas kini menghadapi ancaman nyata. Aktivitas manusia dan agrikultur yang masif memicu tingkat pencemaran signifikan serta masalah sedimentasi (pendangkalan) yang mengancam fungsi bendungan.
- Limbah Industri: Pemerintah Indonesia tengah menyelidiki sekitar 70 perusahaan yang diduga berkontribusi terhadap pencemaran di sepanjang aliran Brantas. Pada pertengahan 2025, pengawasan intensif dilakukan terhadap perusahaan di wilayah Mojokerto dan sekitarnya yang terindikasi membuang limbah tanpa pengolahan yang memadai.
- Polusi Mikroplastik: Brantas tercatat sebagai salah satu sungai paling tercemar mikroplastik di Indonesia. Penelitian menunjukkan adanya kontaminasi mikroplastik yang tersebar dari hulu hingga hilir, dengan kepadatan mencapai 636 partikel per 100 liter air. Sumber utama mikroplastik ini berasal dari fragmentasi limbah plastik sekali pakai dan limbah proses produksi pabrik kertas di wilayah hilir.
- Pencemaran di Kota Batu: Hasil kegiatan “Susur Sungai Brantas 2025” menemukan indikasi pencemaran ringan dari industri rumahan (seperti industri tahu) dan peternakan babi sejak di wilayah Kota Batu.
- Alih Fungsi Lahan: Pembangunan liar di sepanjang bantaran sungai dan alih fungsi lahan hutan menjadi area pemukiman atau pertanian intensif terus menekan daya dukung lingkungan.
- Sepanjang tahun 2025, tercatat sebanyak 531 bencana terjadi di Jawa Timur, yang mayoritas adalah bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor.
- Buruknya kondisi DAS menjadi pemicu utama meningkatnya frekuensi banjir bandang dan longsor, terutama saat memasuki musim hujan.
- Susur Sungai Brantas 2025: Forum komunikasi lintas instansi dan komunitas rutin melakukan penyusuran dari Batu hingga Malang untuk mengidentifikasi tumpukan sampah dan bangunan liar di sempadan sungai.
- Program MEWLAFOR: Sebuah proyek restorasi hutan (didanai oleh GEF) tengah berjalan untuk merehabilitasi lahan seluas 26.033 hektar di tangkapan air Brantas, termasuk penanaman sistem agroforestri dan bambu untuk meningkatkan retensi air dan mengurangi erosi.
- Penegakan Hukum: Kementerian Lingkungan Hidup terus menurunkan tim pengawas untuk memastikan kepatuhan industri di bantaran sungai terhadap regulasi pengelolaan lingkungan.