Kelestarian alam bukan sekadar warisan, melainkan tanggung jawab yang harus dipupuk sejak dini. Pesan inilah yang dibawa oleh Wahana Edukasi Harapan Semesta (WeHasta) melalui aksi nyata mereka dalam menjaga sumber mata air di kawasan Trawas, Kabupaten Mojokerto.
Tidak hanya sekadar seremoni, organisasi lingkungan yang berbasis di Desa Trawas ini terjun langsung melakukan pemeliharaan aliran air di beberapa titik krusial, seperti Sumber Dali dan Sumber Macan. Strategi yang digunakan pun cukup unik: memadukan teknik konservasi fisik dengan edukasi emosional.
Direktur Wahana Edukasi Harapan Semesta (WeHasta), Sisyantoko, mengatakan, aksi pemeliharaan sumber mata air tersbeut dilakukan untuk menjaga keberlangsungan mata air. ‘’Kalau tidak dilakukan pemeliharaan, aliran air dan sumber mata air bisa terhambat dan bisa menutup sumber air.
Membangun “Tabungan” Air
Salah satu langkah teknis yang dilakukan adalah pembuatan embung-embung kecil di dekat pusat mata air. Embung ini berfungsi sebagai penampung sementara sebelum air dialirkan secara teratur ke wilayah yang lebih rendah.
“Tanpa pemeliharaan rutin, aliran air bisa terhambat oleh sedimen atau sampah, yang lama-kelamaan dapat menutup sumber air itu sendiri,” ujar Sisyantoko. Dengan adanya saluran yang tertata, keberlangsungan distribusi air bagi kehidupan di sekitarnya dapat lebih terjamin.
Dia mengatakan, beberapa langkah yang dilakukan adalah melakukan pemeliharaan aliran di dekat lokasi sumber mata air. Kemudian membuatkan semacam embung di dekat lokasi tersebut untuk mengumpulkan air yang keluar dari sumber mata air.
Dari embung kecil itu kemudian air dialirkan ke tempat yang lebih rendah melalui saluran air yang dilaalui mata air tersebut. ‘’Ada alur aliran air dari embung ke lokasi yang lebih rendah. Kami salurkan aliran air melalui saluran itu,’’ tambahnya.
Tak hanya membuat embung kecil untuk mengumpulkan air dari sumber mata air. Dia Bersama WeHasta dan komunitas pegiat lingkungan juga melakuan penanaman pohon di sekitar lokasi sumber mata air
‘’Ini juga untuk menjaga keberlangsungan keberadaan mata air. ‘’Karena air sebagai sumber kehidupan dan harus dijaga terus keberadaannya. Kami berusaha terus menjaga sumber mata air agar tidak mati,’’ sahutnya.
Edukasi Generasi “Peka Lingkungan”
Menariknya, aksi di Sumber Dali melibatkan partisipasi aktif anak-anak. WeHasta sengaja mengajak generasi muda untuk memegang bibit dan menyentuh tanah secara langsung. Edukasi yang diberikan tidak hanya sebatas cara menanam, tetapi juga memberi pemahaman tentang korelasi antara menjaga hutan di hulu dengan ketersediaan air bagi warga di hilir.
Melalui gerakan ini, WeHasta membuktikan bahwa menjaga alam tidak harus rumit. Cukup dimulai dari satu mata air dan satu pohon beringin, demi masa depan yang tetap mengalir.
Sumber mata air yang sudah dilakukan diantaranya sumber mata air Sumber Dali dan Sumber Macan, keduanya berada di Kecamatan Trawas. Di Sumber Dali, dia melibatkan anak-anak untuk melakukan penanaman bibit pohon.
‘’Ini sebagai salah satu upaya kami memberikan edukasi kepada anak-anak agar peka terhadap lingungan dan ikut menjaga keberadaan mata air. Kami juga memberikan edukasi dan mengajak berbagai komunitas untuk menjaga keberadaan sumber mata air,’’ tambahnya.
Upaya edukasi dilakukan dengan menunjukkan lokasi sumber mata air kemudian memberikan pemahaman mengenai keberadaan sumber mata air dan pengaruhnya pada bidang di kawasan itu dan kawasan di wilayah yang lebih rendah. Hal itu agar sumber mata air terus menjadi perhatian dan terus dipeliara.
Kini, lokasi-lokasi yang dikelola WeHasta mulai menjadi magnet bagi berbagai kalangan. Masyarakat yang berkunjung tidak hanya menikmati udara segar, tetapi juga belajar banyak hal—mulai dari teknis pembuatan embung, mengenal jenis pohon pelindung, hingga gerakan menjaga lingkungan agar terbebas dari sampah.