Di balik kabut yang menyelimuti Gunung Penanggungan atau yang secara kuno dikenal sebagai Gunung Pawitra, tersimpan sebuah rahasia kehidupan yang tak pernah surut selama lebih dari seribu tahun. Bagi masyarakat di lereng gunung suci ini, air bukan sekadar komoditas cair, melainkan entitas spiritual yang dijaga dengan narasi mitologi yang kental.
Mitologi Pawitra: Jelmaan Puncak Mahameru
Dalam kitab kuno Tantu Panggelaran, Gunung Penanggungan diyakini sebagai bagian puncak Gunung Mahameru yang tercecer saat dipindahkan dari India ke Pulau Jawa. Statusnya sebagai “gunung suci” menjadikan setiap tetes air yang mengalir dari sumber-sumbernya, seperti Petirtaan Jolotundo, dianggap sebagai air suci (amrita) yang membawa berkah kesehatan dan keberuntungan.
Benteng Gaib Melalui Ritual “Ruwat Sumber”
Kepatuhan warga untuk menjaga kelestarian hutan di kaki Penanggungan tidak hanya didorong oleh aturan pemerintah, melainkan rasa hormat pada kearifan lokal. Salah satu tradisi yang masih teguh dijalankan adalah Ruwat Sumber Air di Petirtaan Jolotundo.
Dalam ritual ini, air dari puluhan titik mata air di sekeliling Penanggungan dikumpulkan dan disatukan sebagai simbol pemuliaan alam. “Kami percaya bahwa menjaga kesucian mata air adalah menjaga napas leluhur. Jika kita merusak pohon penopang air, kita tidak hanya mengundang banjir, tapi juga memutus berkah dari Sang Pencipta,” ujar salah satu tokoh masyarakat setempat.
Sinergi Mitologi dan Konservasi Nyata
Mitos tentang “penjaga gaib” dan kawasan wingit (sakral) terbukti menjadi instrumen konservasi yang paling efektif. :
Zona Terlarang: Area di sekitar sumber air seperti Jolotundo dipandang sakral, sehingga masyarakat dilarang keras menebang pohon atau mencemari area tersebut guna menghindari “kualat” (nasib buruk). Ritual adat di lereng gunung sering kali merupakan cara masyarakat bersyukur dan membatasi pengambilan sumber daya alam.
Ekologi Ficus: Secara ilmiah, pohon-pohon besar yang dianggap keramat adalah penyimpan cadangan air tanah yang vital bagi kelangsungan hidup ribuan warga di Mojokerto dan sekitarnya.
Sedekah Gunung: Menjadi pengingat kolektif bahwa manusia hanya “meminjam” dari alam dan harus mengembalikannya melalui perawatan lingkungan.
Ancaman di Tengah Kesakralan
Meski dijaga dengan narasi suci, tantangan nyata mulai muncul. Maraknya tambang ilegal dan ancaman kerusakan lingkungan di wilayah perbatasan Pasuruan-Mojokerto menjadi alarm bagi kelestarian situs-situs suci ini. Para pegiat budaya dan lingkungan kini mendesak pemerintah untuk segera menetapkan Gunung Penanggungan sebagai Kawasan Cagar Budaya Nasional demi perlindungan hukum yang lebih kuat terhadap sumber kehidupan tersebut.
Bagi warga lereng Penanggungan, merawat alam adalah ibadah yang tak putus. Mitologi adalah bahasa cinta mereka kepada bumi, memastikan bahwa air dari Pawitra akan terus mengalir untuk generasi mendatang sebagaimana ia telah mengalir selama berabad-abad.