Pernahkah Anda membayangkan sebuah kota di abad ke-14 yang sudah memiliki sistem distribusi air bersih sekelas kota modern? Di saat banyak peradaban dunia masih berjuang dengan sanitasi dasar, Kerajaan Majapahit di Jawa Timur telah membangun metropolis berbasis air yang sangat canggih di ibu kota Trowulan.
Bagi Majapahit, menguasai air berarti menguasai kedaulatan. Kelimpahan pangan dari hasil bumi yang terairi dengan baik inilah yang membiayai angkatan perang Gajah Mada untuk menyatukan Nusantara. Namun, rahasia di balik kejayaan ini bukan sekadar saluran air biasa, melainkan perpaduan antara spiritualitas, estetika, dan teknik sipil yang melampaui zamannya.
Jaladwara: Saat Seni Menjadi Penjaga Aliran
Salah satu simbol paling ikonik dari pengelolaan air Majapahit adalah Jaladwara. Secara harfiah, Jaladwara berarti “jalan air” (Jala: air, Dwara: pintu/jalan).
Bukan sekadar pipa biasa, Jaladwara adalah pancuran air yang dipahat dari batu andesit dengan motif artistik berbentuk makhluk mitologi seperti Makara atau Naga. Di balik keindahannya, Jaladwara menyimpan fungsi vital:
- Purifikasi Spiritual: Air yang keluar dari mulut makhluk mitis ini dianggap telah mengalami pensucian, melambangkan air kehidupan (Amerta).
- Katup Tekanan: Secara teknis, Jaladwara berfungsi sebagai titik pelepas tekanan air. Tanpa lubang ini, tekanan air di saluran tertutup bisa meledakkan pipa saat debit air meningkat tajam.
Trowulan: “Venesia” dari Timur
Ibu kota Majapahit dirancang sebagai jaringan kanal raksasa yang saling berpotongan. Arkeolog menemukan bahwa kanal navigasi dan drainase di sana bisa mencapai lebar 20-30 meter, berfungsi sebagai jalur transportasi sekaligus pengendali banjir.
Di bawah permukaan tanah, terdapat ribuan fragmen pipa terakota (tanah liat bakar) yang menyambungkan sumber mata air pegunungan ke pemukiman. Selain itu, terdapat Kolam Segaran, waduk buatan seluas 6,5 hektar yang berfungsi sebagai reservoir raksasa saat musim kemarau sekaligus simbol kemewahan kerajaan.
Rahasia Keawetan: Mengapa Masih Mengalir Hingga Kini?
Situs seperti Sumber Tetek (Candi Belahan) atau Candi Jalatunda masih mengalirkan air jernih hingga hari ini, lebih dari 600 tahun sejak dibangun. Rahasianya terletak pada teknik hidrolik yang jenius:
- Sistem Gravitasi & Akuifer: Mereka membangun petirtaan tepat di lereng gunung untuk memanfaatkan tekanan alami dari lapisan batuan mengandung air (akuifer). Tanpa pompa, air mengalir konstan karena perbedaan ketinggian yang diperhitungkan secara akurat.
- Filtrasi Berlapis: Sebelum mencapai Jaladwara, air melewati sistem penyaringan alami di balik dinding candi yang terdiri dari lapisan ijuk, kerikil, dan pasir (sand filter). Inilah mengapa airnya tetap jernih sepanjang tahun.
- Arsitektur Interlocking: Pipa terakota dan dinding batu dibangun dengan sistem male-female (takikan pengunci). Karena tidak kaku seperti semen modern, struktur ini lebih fleksibel dan tahan terhadap getaran gempa.
- Konservasi Hulu sebagai Waduk Alami: Keawetan ini mustahil ada tanpa konsep “Hutan Larangan”. Dengan mensakralkan gunung sebagai tempat suci, vegetasi tetap terjaga. Akar pohon di hulu berfungsi sebagai waduk alami yang menyimpan air hujan dan menyuplainya ke hilir secara perlahan.
Keajaiban hidrolik Majapahit membuktikan bahwa leluhur kita tidak hanya ahli dalam berperang atau berpolitik, tetapi juga sangat menghormati alam. Bagi mereka, air adalah anugerah ilahi yang harus dijaga kemurniannya. Dengan menyatukan estetika pada Jaladwara dan ketangguhan pada pipa-pipa bawah tanah, Majapahit mewariskan sebuah pesan: bahwa teknologi terbaik adalah yang bekerja selaras dengan alam, bukan yang merusaknya.