Home Literasi Sungai Kita, Wajah Kita: Mengembalikan Martabat Air di Tengah Kota
Literasi

Sungai Kita, Wajah Kita: Mengembalikan Martabat Air di Tengah Kota

Share
Share

Jawa Timur tengah menghadapi darurat yang mengalir tenang namun mematikan. Di balik keindahan panorama jembatan-jembatannya, aliran sungai kita sedang “tersedak”. Data menunjukkan bahwa di Surabaya saja, setiap hari petugas harus berjibaku mengangkat 25 hingga 40 ton sampah dari sungai. Sementara di Sidoarjo, angka akumulatifnya lebih mencengangkan: hampir 1.000 ton sampah dievakuasi dari sungai menuju TPA Jabon hanya dalam kurun enam bulan pertama tahun 2025.

Fenomena ini bukan sekadar masalah kegagalan teknis manajemen limbah. Ini adalah cermin dari pergeseran psikologis dan kultural yang mendalam. Kita sedang menyaksikan sebuah tragedi tata ruang: sungai yang dulunya adalah “wajah” peradaban, kini telah resmi menjadi “halaman belakang” yang terlupakan.

Riwayat yang Terbalik

Secara historis, masyarakat Nusantara adalah masyarakat air. Sungai adalah urat nadi transportasi, pusat perdagangan, dan ruang suci untuk bersuci. Di masa itu, rumah-rumah dibangun menghadap sungai. Sebagai “wajah” atau halaman depan, sungai dirawat karena ia adalah representasi martabat penghuninya. Membuang sampah ke sungai di era itu sama memalukannya dengan membuang sampah di ruang tamu sendiri.

Namun, arah angin berubah seiring masuknya pengaruh urbanisasi dan modernisasi transportasi darat, terutama sejak pertengahan abad ke-20. Pembangunan jaringan jalan raya yang masif membuat orientasi bangunan berputar 180 derajat. Jalan aspal menjadi magnet ekonomi baru, memaksa rumah-rumah membelakangi sungai demi mendapatkan akses ke darat.

Sejak saat itulah, sungai secara permanen terusir ke area belakang. Secara psikologis, area belakang adalah tempat untuk segala sesuatu yang ingin disembunyikan. Di situlah letak toilet, kandang, dan akhirnya, tempat sampah. Perubahan orientasi fisik bangunan ini secara otomatis mengubah cara pandang masyarakat: sungai bukan lagi sumber kehidupan yang harus dijaga, melainkan saluran pembuangan yang gratis dan efisien.

Logika “Hanyut Berarti Hilang”

Transformasi menjadi “halaman belakang” melahirkan mentalitas berbahaya: out of sight, out of mind. Banyak dari kita yang masih terjebak pada logika kuno bahwa benda yang dibuang ke air mengalir akan “hilang” dengan sendirinya. Padahal, alam memiliki cara kerja yang berbeda. Plastik sekali pakai, limbah popok, hingga sisa industri tidak pernah benar-benar pergi; mereka hanya berpindah tempat, menumpuk, menjadi sedimen, dan akhirnya memicu banjir atau meracuni ekosistem.

Lonjakan volume sampah di TPA saat musim normalisasi sungai—seperti yang terjadi di Sidoarjo—adalah bukti bahwa sungai kita telah menjadi “tabungan” sampah raksasa selama bertahun-tahun. Kita baru panik saat air meluap masuk ke rumah, tanpa menyadari bahwa bencana itu adalah hasil dari apa yang kita “tabung” di halaman belakang kita sendiri.

Mengembalikan Wajah Sungai

Mengatasi puluhan ton sampah harian tidak bisa hanya dengan menambah alat berat atau petugas kebersihan. Tantangan terbesarnya adalah memutar balik orientasi bangunan dan mentalitas kita.

Beberapa komunitas di Jawa Timur mulai mengampanyekan gerakan “Sungai Sebagai Beranda Depan”. Tujuannya sederhana namun mendalam: jika kita kembali memandang sungai sebagai bagian dari ruang tamu kita, kita tidak akan punya nyali untuk merusaknya.

Menyelamatkan sungai Jatim berarti belajar lagi untuk melihat air bukan sebagai pembuangan, melainkan sebagai cermin yang memantulkan siapa kita sebenarnya sebagai bangsa.

 

Share
  • Head Office : Gayaman, Mojokerto Distric, Jawa timur Region- Indonesia. 61364
  • Phone Call:
  • Web:www. aliansiair.com
  • email : info@aliansiair.com