Home Literasi Belajar dari Brantas 1997: Saat Kekeringan Global Memicu Reformasi Nasional
Literasi

Belajar dari Brantas 1997: Saat Kekeringan Global Memicu Reformasi Nasional

Peringatan BMKG tentang potensi musim kemarau berkepanjangan akibat fenomena iklim El Niño pada 2026, membawa ingatan saya kembali ke 1997. Tahun itu adalah salah satu yang terkering dalam sejarah hidrologi di Indonesia dan menjadi bisa menjadi contoh bagaimana fenomena keikliman global seperti El Niño dapat menimbulkan dampak sosial ekonomi pada suatu negara. Kekeringan pada masa tersebut menimbulkan penurunan produksi bahan pangan, khususnya padi, yang menjadi sumber karbohidrat masyarakat.

Share
Share
Oleh : Prof. Raymont Valliant

Penyebab El Niño adalah osilasi tekanan udara di Samudera Pasifik, yang mencapai nilai negatif. Osilasi ini diukur memakai perbedaan tekanan udara permukaan yang dinormalisasi antara Tahiti (Pasifik bagian timur) dan Darwin, Australia (Pasifik bagian barat). Fenomena El Niño ditandai dengan angin pasat yang lebih lemah dan tekanan yang lebih rendah di Tahiti. Akibatnya massa uap air dari Samudera Pasifik tidak bisa terbawa ke Indonesia, yang mengakibatkan turun kelembaban dan akhirnya mendorong kekeringan.

Saat massa uap air di atas Indonesia berkurang, fenomena ini disebut El Niño (untuk menamai periode kering) dan sebaliknya jika massa uap air bertambah maka fenomena itu disebut La Niña (periode basah di Indonesia). Saat terjadi La Niña, osilasi tekanan udara di Samudera Pasifik meningkat. Ini menyebabkan timbulnya angin pasat yang lebih kuat sehingga massa uap air dari Samudera Pasifik terbawa jauh ke Indonesia. Massa uap air ini membuat curah hujan naik secara signifikan di Indonesia.

Uniknya, fenomena El Niño ini dapat dianalisis (hampir selalu) berkaitan dengan ketegangan sosial politik di Asia Tenggara dan Asia Selatan. Artinya, fenomena kekeringan akan berkaitan dengan stabilitas agraris dan memiliki dampak secara politis. Stabilitas agraris ini umumnya berupa tekanan pada pengelolaan fiskal di negara-negara yang terdampak oleh El Niño. Salah satunya adalah yang pernah mengalami pada 1997–1998 adalah Indonesia. Beberapa pakar memperkirakan fenomena El Niño tahun 2026 ini berpeluang menjadi salah satu terbesar kedua setelah fenomena serupa pada 1877–1878, meskipun pemodelan belum mengkonfirmasi peluang kejadian buruk ini pada Indonesia.

Tahun 1877–1878 dikenal sebagai tahun dengan fenomena El Niño terbesar berdasarkan rekonstruksi dari berbagai sumber sekunder. Sejak 1877–1878 hingga 2026 sudah terdapat 6 kali peristiwa El Niño secara global, yang berpengaruh pada perekonomian dunia. Data global menunjukkan 1965–1966, 1972–1973, 1982 dan 1997–1998 adalah tahun-tahun di mana situasi keikliman di Asia Tenggara dipengaruhi fenomena El Niño. Pada periode itu juga –menariknya– terjadi beberapa krisis yang berdampak secara politik.

Bahkan dalam sejarah Indonesia, dua kali terjadi perubahan rezim pemerintahan berdekatan dengan fenomena keikliman ini. Pada 1997, Indonesia mengalami kekeringan secara signifkan. Saya ingat, curah hujan di DAS Brantas, Jawa Timur mencapai angka terendah, hanya 1.412 mm, terendah ketiga setelah tahun El Niño pada 1965 (1.273 mm) dan 1982 (1.288 mm). Akibatnya, luas tanam dan tingkat intensitas tanam untuk padi menurun drastis. Jika tidak salah, dampaknya intensitas tanam di DAS Brantas turun menjadi 150–160% dari semula 180–200%.

Secara nasional, penurunan luas tanam dan intensitas tanam menyebabkan produki beras turun signfikan. Tekanan kekeringan terutama dirasakan di Sumatera sisi utara & timur, Kalimantan sisi timur dan Bali-NTB-NTT. Padahal, pada 1995 & 1996, Indonesia sudah mengalami penurunan produksi padi signifikan sehingga harus mengimpor 5,3 juta ton beras. Fenomena El Niño menambah impor beras dari pasar internasional sekitar 2,9 juta ton. Akibat impor yang memakai mata uang asing ini terjadi deviasi negatif pada APBN. Mata uang AS$ harus ditarik lebih banyak untuk membayar impor yang akhirnya menyebabkan kenilaian tukar AS$. Nilai AS$ meroket dari Rp5.800-an pada akhir 1997 mencapai Rp17.000 pada kwartal kedua 1998. Situasi ini diduga berkontribusi pada kondisi politik yang membawa reformasi.

Tentu saja, fenomena kenaikan nilai tukar AS$, tekanan fiskal karena peningkatan impor beras dan kekeringan yang terjadi ini adalah fenomena yang walaupun tampak berhubungan sifatnya tetap kompleks serta masih dipengaruhi berbagai faktor lain. Namun, kekeringan yang diakibatkan fenomena iklim global seperti El Niño yang diperkirakan akan terjadi dengan kekuatan moderat, tetap merupakan  ancaman nyata terhadap ketahanan pangan di Indonesia. Semoga pemerintah dapat menyiasatinya risiko ini dengan mitigasi yang tepat. Semoga pemerintah kita dapat menangani semua risiko ini dengan sebaik-baiknya di 2026 ini.

 

 

Share
  • Head Office : Gayaman, Mojokerto Distric, Jawa timur Region- Indonesia. 61364
  • Phone Call:
  • Web:www. aliansiair.com
  • email : info@aliansiair.com