Suara Sunyi dari Hulu: Ketika Para Pembela Sungai Berkumpul di Sumber Gempong

Share
Share

Gemercik air jernih yang mengalir di sela-sela bebatuan lereng Gunung Penanggungan menjadi saksi bisu sebuah babak baru bagi pelestarian alam Nusantara. Selama tiga hari, dari 25 hingga 27 Juli 2026, kawasan Wisata Sawah Sumber Gempong di Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, berubah menjadi episentrum berkumpulnya para penjaga air dari seluruh penjuru negeri dalam gelaran Konferensi Sungai Indonesia 2026.

Suasana sejuk khas pegunungan Trawas terasa kian hangat saat sore itu, Senin (27/7/2026), Menteri Lingkungan Hidup (LH) Jumhur Hidayat melangkah di antara rimbunnya vegetasi hijau hulu sungai. Matanya berbinar, tersentuh oleh dedikasi ratusan aktivis, masyarakat adat, dan penggerak lokal yang datang membawa cerita perjuangan dari sungai-sungai mereka yang terancam. Bagi Menteri Jumhur, pertemuan ini bukan sekadar seremoni birokrasi, melainkan sebuah gerakan kultural yang lahir dari rahim bumi.

“Pemerintah, KLH sangat-sangat menghargai kegiatan ini. Kegiatan yang memang muncul dari bawah, yang mereka sudah bertahun-tahun bahkan puluhan tahun membentuk komunitas di daerahnya masing-masing untuk memuliakan sungai,” ujar Jumhur dengan nada haru usai menutup rangkaian konferensi secara resmi.

Cermin Peradaban di Aliran Air

Sambil memandangi aliran air Sumber Gempong yang menghidupi petak-petak sawah di sekitarnya, Jumhur mengingatkan kembali sebuah fakta sejarah yang kerap terlupakan oleh manusia modern: seluruh peradaban besar di dunia selalu lahir dan terlacak dari jejak sungai. Kehadiran komunitas-komunitas akar rumput ini dinilainya sebagai pemantik untuk menghidupkan kembali kesadaran kolektif yang sempat mati.

Baca Juga :  Setiap Aktivitas meninggalkan Jejak Karbon bagi Lingkungan

“Saya diundang, sehingga saya bisa bertukar pikiran terkait dengan usulan mereka ini. Jangan kita membelakangi sungai. Itu pesannya dalam pertemuan ini. Jangan kita membelakangi sungai, tapi kita justru harus menjadikan sungai di hadapan kita, menjadi sungai indah,” tegasnya penuh filosofi.

Pesan “jangan membelakangi sungai” menjadi tamparan sekaligus ajakan untuk mengubah paradigma. Sungai tidak boleh lagi diperlakukan sebagai halaman belakang tempat membuang limbah dan sampah, melainkan harus diletakkan di teras depan kehidupan sebagai sumber peradaban, keindahan, dan spiritualitas.

Komitmen dari Bumi Majapahit

Gayung bersambut, komitmen pelestarian ini didukung penuh oleh tuan rumah. Sekretaris Daerah (Sekda) Jawa Timur, Adhy Karyono, yang hadir mendampingi menteri, menyampaikan rasa bangganya atas terpilihnya Trawas sebagai pusat gerakan sungai nasional tahun ini. Bagi Pemprov Jatim, tantangan mengelola air adalah realita sehari-hari yang harus dihadapi dengan kebijakan nyata.

Tentunya lebih dari 100 sungai yang mengalir di Jawa Timur, dan itu persoalannya memang hampir sama tentang kelestarian lingkungan,” ungkap Adhy jujur.

Namun, di balik tantangan tersebut, Adhy melihat secercah harapan ekonomis yang selaras dengan ekologi. Kawasan Wisata Sawah Sumber Gempong adalah contoh nyata bagaimana alam yang dirawat dengan baik mampu menghidupi warganya tanpa harus merusaknya. “Pemilihan lokasi ini luar biasa, karena juga berdampak pada perekonomian di wilayah setempat,” tambahnya sembari menyambut baik sinergi kebijakan lingkungan antara pusat dan daerah.

Baca Juga :  Rahasia Hidrologi Sang Pawitra: Membedah Karakteristik Mata Air di Kaki Gunung Penanggungan

Menanam Harapan Baru

Konferensi tidak berakhir di atas meja diskusi. Sebagai wujud nyata dari komitmen “memuliakan sungai”, Menteri LH Jumhur Hidayat bersama Sekda Adhy Karyono dan para pemangku kepentingan setempat melangkah bersama menuju area kritis di sekitar Sumber Gempong. Dengan cangkul di tangan dan tanah yang membasahi jemari, mereka menanam bibit-bibit pohon di kawasan tersebut.

Setiap akar pohon yang masuk ke dalam tanah hari itu adalah simbol dari ribuan doa dan harapan baru. Akar-akar itulah yang kelak akan mengikat air, mencegah erosi, dan memastikan pasokan air bersih terus mengalir untuk generasi masa depan.

Ketika matahari mulai tenggelam di balik punggung gunung Trawas, konferensi resmi berakhir. Namun, riak air dari Sumber Gempong membawa pesan kuat yang kini mengalir ke seluruh sungai di Indonesia: saatnya menatap lurus ke depan, merangkul sungai, dan mengembalikan kejayaan peradaban air Nusantara.

 

Share
Artikel Terkait
Kabar

Bangun Benteng Pertahanan Air, Aliansi Air Dorong Partisipasi Aktif Masyarakat

Aliansi Air menyelenggarakan Rapat Kerja (Raker) Tahunan periode 2026-2027 di Kota Mojokerto...

Kabar

Jaga Kelestarian Alam, Aliansi Air Pasang Papan Informasi Restorasi di Sumber Macan Trawas

Sebagai upaya nyata dalam menjaga ketahanan air di wilayah lereng Gunung Welirang,...

Kabar

WeHasta Ajak Anak-Anak Rawat Sumber Mata Air dan Tanam Beringin

Kelestarian alam bukan sekadar warisan, melainkan tanggung jawab yang harus dipupuk sejak...

Rawat Sumber Mata Air Sumber Jubel Pacet
Kabar

Rawat Sumber Mata Air Sumber Jubel Pacet

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mojokerto bersama Perumdam Mojopahit dan sejumlah pegiat lingkungan melakukan...

  • Head Office : Gayaman, Mojokerto Distric, Jawa timur Region- Indonesia. 61364
  • Phone Call:
  • Web:www. aliansiair.com
  • email : info@aliansiair.com