Mata Air Pasar Keramat Mojokerto menyimpan rahasia alam yang mengagumkan di balik rimbunnya pepohonan. Di kolamnya yang sebening kaca, tampak kawanan ikan uceng (Nemacheilus fasciatus) bergerak lincah. Banyak yang mengira ikan-ikan ini muncul karena kekuatan magis atau sengaja dilepaskan oleh leluhur masa lalu untuk menjaga kesucian sumber air yang dikeramatkan tersebut.
Namun, di balik balutan mitos lokal yang kental, tersimpan sebuah kisah petualangan alami yang luar biasa dari sang ikan uceng. Keberadaan mereka di titik nol Mata Air Pasar Keramat merupakan hasil dari sebuah perjuangan migrasi yang sangat panjang. Layaknya kisah legendaris ikan salmon di benua Amerika yang mempertaruhkan nyawa demi kembali ke tempat lahirnya, ikan uceng Mojokerto ini juga melakoni ritual “mudik” yang tidak kalah dramatis. Berbulan-bulan lalu, ikan-ikan kecil ini memulai perjalanan ekstrem dari sungai-sungai besar di dataran rendah. Mereka berenang sejauh belasan kilometer melawan arus yang menghanyutkan, meliuk di antara jeram mematikan, hingga menggunakan perutnya yang khas untuk menempel dan merayap di dinding batuan yang basah demi menuju hulu.
Perjalanan melelahkan ini menuntut ketangguhan fisik yang luar biasa karena mereka harus lolos dari sergapan berbagai predator sungai dan jebakan jaring manusia di sepanjang jalur migrasi. Dorongan insting yang kuat untuk mencari air murni kaya oksigen sebagai tempat bertelur menjadi bahan bakar utama yang menggerakkan kawanan uceng ini. Ketika debit air meningkat di musim penghujan, mereka memanfaatkan celah-celah sempit dan aliran air bawah tanah yang menembus lapisan batuan karst Mojokerto. Melalui labirin kegelapan bawah tanah itulah, ikan uceng akhirnya berhasil menembus keluar dan menghuni kolam Mata Air Pasar Keramat demi satu tujuan mulia: melahirkan generasi baru di tempat teraman yang disediakan alam.
Kini, kehadiran ikan uceng di Pasar Keramat bukan lagi sekadar pemandangan indah yang menenangkan hati, melainkan sebuah pesan penting dari alam. Keberadaan mereka yang masih lestari membuktikan bahwa jalur air bawah tanah dan ekosistem sungai di kawasan Mojokerto tersebut masih terjaga dari pencemaran zat kimia berbahaya. Bagi masyarakat setempat, menjaga kesucian Mata Air Pasar Keramat kini tidak hanya berarti merawat tradisi budaya, tetapi juga mengamankan garis akhir dari petualangan hidup sang ikan uceng yang legendaris.
Ikan uceng harus terus hidup dan memenangkan perjuangan ini karena mereka memegang kunci vital dalam rantai makanan dan kelestarian air tawar. Sebagai pemakan lumut dan larva serangga di dasar air, kehadiran mereka mencegah ledakan populasi hama sekaligus menjaga bebatuan mata air tetap bersih dari sedimentasi yang menyumbat pasokan air bersih.